Sabtu, 26 November 2011

An Inconvenient Truth: Best Film About Global Warming



Download filmnya HERE

‘An Inconvenient Truth’ adalah sebuah film dokumenter tentang pemanasan global yang dibintangi oleh Al Gore, mantan wakil presiden Amerika Serikat pada era Bill Clinton. Film ini mencetak rekor pendapatan pada hari pertama untuk sebuah film dokumenter dan merupakan film dokumenter terlaris ketiga di Amerika Serikat setelah Fahrenheit 9/11 dan March of the Penguins.

Membosankan? Topik ilmiah seperti pemanasan global adalah topik yang membosankan bagi kebanyakan orang, tetapi berbeda jika dibawakan oleh seorang Al Gore. Al Gore mampu menyajikan topik ini dengan sangat baik sehingga mudah dicerna oleh orang awam.
Dalam urusan pemanasan global, Amerika Serikat adalah negara yang ‘kontribusi’-nya paling banyak, tak kurang dari 25% produksikarbondioksida dunia berasal dari Amerika Serikat. Salah satu penyebabnya adalah di sana isu pemanasan global masih saja menjadi polemik, antara lain akibat pemberitaan yang tidak berimbang di media massa serta lobi politis dari pihak-pihak yang tidak pro lingkungan. Al Gore yang juga merangkap sebagai salah satu direktur Apple Corporation dan penasihat Google ini dapat menjelaskan dengan baik bahwa pemanasan global sedang terjadi dan hal tersebut berbahaya bagi masa depan umat manusia.

Gore memberi contoh misalnya volume gletser yang menurun di berbagai tempat di dunia, badai Katrina, rata-rata suhu yang panas di berbagai kota di dunia, bencana kekeringan, penipisan es di Artik, serta luas daratan yang berkurang jika es di Antartika atau Greenlandmencair.


Dalam beberapa kesempatan, Gore juga menceritakan kehidupan pribadinya, bagaimana hal-hal yang terjadi pada kehidupannya membuat beliau menjadi seorang pejuang lingkungan. Pertama kali Gore mengetahui pemanasan global adalah dari Roger Revelle, pengajarnya sewaktu kuliah dan salah satu orang yang pertama kali mempelajari pemanasan global. Gore juga menceritakan rasa frustasinya ketika menghadapi senat Amerika Serikat, sebelumnya dia yakin jika kongres akan sama-sama terkejut jika mengetahui fakta pemanasan global, tetapi kenyataannya tidak sama sekali. Dan setelah kekalahan tipisnya dari George W. Bush pada pemilu Amerika Serikat, Gore memilih untuk pergi dari kota ke kota untuk membicarakan isu lingkungan.

Ketidakberdayaan Amerika Serikat dalam menghadapi isu lingkungan juga menjadi salah satu topik yang dibahas. Film dokumenter ini mengutip ucapan Ronald Reagan, mantan presiden Amerika Serikat:
A number of very reputable scientists have said that one factor of pollution is oxygen nitrogen from decaying vegetation. This is what causes the haze that gave the big smoking ???
Atau George Bush, juga mantan presiden Amerika Serikat dan ayah dari presiden Amerika Serikat yang sekarang:
This guy (Al Gore) is so far off the environmentalist extreme we’ll be up to our neck in owls and out of work for every American.
Atau Jim Inhofe, salah satu senator Amerika Serikat:
Global warming is the greatest hoax ever perpetrated on the American people.

 Setelah serangan 9/11, Amerika Serikat bersumpah bahwa tidak akan ada serangan seperti itu lagi. Al Gore dengan baik memperagakan apa yang akan terjadi seandainya es yang ada di Greenland atau Antartika mencair: bangunan World Trade Center Memorial akan dikelilingi air.


Gore juga membantah miskonsepsi bahwa belum ada kesepakatan tentang pemanasan global di antara para ilmuwan dengan mengutippenelitian kontroversial Naomi Oreskes pada tahun 2004. Oreskes mencari jurnal ilmiah dengan kata kunci ‘global climate change’ dan menemukan 928 jurnal. Dari sejumlah jurnal tersebut sama sekali tidak ada yang berbeda pendapat dengan pendapat mainstream tentang pemanasan global. Sebaliknya, pada penelitian yang lain, dari 636 artikel tentang pemanasan global di media massa populer, 53% di antaranya berpendapat bahwa belum ada kesepakatan tentang pemanasan global di kalangan ilmuwan.

Kemudian Gore juga memberitakan kasus Philip Cooney tahun 2003. Waktu itu Cooney yang menjabat sebagai staff Gedung Putih tentang lingkungan menerima memo dari EPA tentang pemanasan global. Bukannya memberitakan memo tersebut apa adanya, dia memodifikasinya sehingga artinya berbeda. Insiden ini kemudian diketahui oleh New York Times. Cooney kemudian mengundurkan diri dan beberapa hari kemudian langsung bekerja untuk Exxon-Mobil.

Alasan klasik pemerintah Amerika Serikat dalam isu lingkungan adalah bahwa memperhatikan lingkungan akan mempengaruhi perekonomian. Al Gore menanggapi isu ini dengan menggunakan analogi bumi dan emas. Mana yang harus kita pilih jika disuruh untuk memilih: emas atau bumi? Emas tidak berarti jika kita tidak memiliki bumi.
***

Tidak salah jika disebut bahwa film ini berhadapan langsung dengan kaum industrialis yang sekarang menguasai Gedung Putih. Akibatnya, mesin-mesin propaganda mereka bergerak dengan cepat untuk melawan efek dari film ini.

Pada Mei 2006, lembaga ‘non profit’ CEI membuat dua buah iklan televisi yang menyebutkan bahwa pemanasan global bukanlah masalah. Iklan yang pertama mengutip sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa “gletser sedang bertambah, dan bukan sedang mencair”. Beberapa hari kemudian, Curt Davis –peneliti dari Universitas Missouri-Columbia yang mempublikasikan penelitian tersebut– merilispernyataan yang membantah iklan tersebut:
“These television ads are a deliberate effort to confuse and mislead the public about the global warming debate,” Davis said. “They are selectively using only parts of my previous research to support their claims. They are not telling the entire story to the public.”
Iklan yang kedua mengatakan bahwa “Karbondioksida bukanlah polutan, kita menghembuskannya dan tanaman menghirupnya. Mereka mengatai ini polusi, kami mengatai ini kehidupan”, tentunya tanpa memperhatikan bahwa ilmuwan sepakat bahwa pertambahan konsentrasi karbondioksida di atmosfer akan menambah temperatur bumi.
CEI adalah lembaga ‘non profit’ yang didanai salah satunya oleh ExxonMobil.

Pada Agustus 2006, seseorang mengunggah (upload) sebuah video keYouTube. Video yang berjudul Al Gore’s Penguin Army tidak memiliki tujuan apapun selain untuk mendiskreditkan Al Gore. Video ini diklaim dibuat oleh seorang amatir berusia 29 tahun, tetapi Wall Street Journal kemudian menemukan bahwa ‘amatir’ ini berasal dari grup DCI, sebuah firma public relations yang berhubungan erat dengan Partai Republican dan perusahaan-perusahaan seperti General Motors dan ExxonMobil.
***
Secara keseluruhan, ‘An Inconvenient Truth’ adalah dokumenter yang sangat baik sekali. Tidak seperti kebanyakan dokumenter lainnya, film ini melibatkan emosi dari penonton. Penonton Amerika Serikat yang sudah dicuci otaknya oleh pernyataan-pernyataan media massa mungkin akan sangat terkejut melihat kenyataan yang dipresentasikan oleh Al Gore.
Dokumenter ini akan terlihat seperti kampanye kepresidenan bagi lawan politik Al Gore (atau iklan Apple Mac bagi kompetitor Apple :D ), tetapi isu yang disajikannya adalah isu nyata yang telah berulang kali diabaikan oleh lawan-lawan politiknya. Amerika Serikat tidak akan rugi seandainya Al Gore menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya. Untuk ukuran politisi Amerika Serikat, Al Gore termasuk konservatif dalam politik luar negeri, dan lebih mementingkan masalah-masalah yang jauh lebih penting seperti pemanasan global. Sayangnya, Al Gore sudah menyatakan tidak akan ikut pemilihan umum tahun depan.
Kelemahan film ini juga cukup nyata: film ini sangat terlihat hanya ditujukan bagi masyarakat Amerika Serikat. Terlalu banyak bahasan yang hanya cocok jika dipresentasikan ke warga Amerika Serikat. Walaupun demikian, masih banyak hal lain yang berlaku global yang bisa kita cerna dari film ini. Bagi yang memiliki kesempatan untuk menonton film dokumenter ini, saya sangat anjurkan untuk menontonnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Reviews